Masa remaja merupakan masa transisi yang rentan terhadap berbagai masalah psikologis dan perilaku menyimpang. Ketidakstabilan emosi, kecemasan, dan stres menjadi tantangan utama yang mengancam kesehatan mental mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kekuatan spiritualitas dan pengamalan ibadah terhadap kesehatan mental remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, observasi perilaku, dan wawancara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang sangat signifikan antara kedalaman spiritualitas dengan kestabilan mental. Remaja yang memiliki keyakinan kuat dan rutin menjalankan ibadah seperti shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an cenderung memiliki tingkat kecemasan yang lebih rendah, lebih mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ketahanan diri (resilience) yang baik dalam menghadapi masalah. Kesimpulannya, spiritualitas berfungsi sebagai sistem pendukung internal yang kuat yang memberikan ketenangan, makna hidup, dan harapan, sehingga sangat efektif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan mental remaja. Kata Kunci: Spiritualitas, Ibadah, Kesehatan Mental, Remaja, Bimbingan Konseling Islam.Masa remaja sering disebut sebagai masa storm and stress atau badai dan topan. Pada fase ini, terjadi perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang sangat drastis dan cepat. Remaja berada dalam posisi mencari jati diri, ingin mandiri, namun di sisi lain masih membutuhkan bimbingan dan perlindungan. Kondisi ini menjadikan remaja sebagai kelompok yang sangat rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Berdasarkan data empiris dan fenomena yang terjadi di lapangan, masalah kesehatan mental pada remaja semakin mengkhawatirkan. Mulai dari stres akademik, tekanan pergaulan, pengaruh media sosial, hingga konflik batin yang tidak terselesaikan. Hal ini sering kali berujung pada perilaku maladaptif seperti depresi, kecemasan berlebihan, kenakalan remaja, hingga pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Secara psikologis, kesehatan mental didefinisikan sebagai kondisi di mana individu menyadari kemampuannya sendiri, mampu mengatasi tekanan hidup yang normal, mampu bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi bagi komunitasnya. Namun, upaya pemeliharaan kesehatan mental seringkali hanya dilihat dari sudut pandang medis atau psikologis modern semata, padahal terdapat aspek fundamental yang sangat berpengaruh, yaitu aspek spiritual atau keagamaan. Dalam pandangan Islam, jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kesehatan fisik dan kesehatan mental sangat bergantung pada kualitas hubungan hamba dengan Penciptanya. Spiritualitas bukan hanya soal ritual, melainkan sistem nilai yang mengatur cara pandang individu terhadap kehidupan, masalah, dan masa depan.